Di bolak balik 2 suku kata tersebut sebenarnya sama-sama aja, yaitu mencari kambing hitam atas masalah yang terjadi disekeliling hidup kita. Nah karena hari ini Jum'at gw coba berposting sedikit lurus tanpa ada unsur pornografi, seperti mengucapkan kata Bra, Payudara, ataupun tubuhnya yang seksi dan bergelinjang.
Nah, kemarin sore itu di dunia burung kecil lagi rame dengan efek suatu tulisan dibuku teks sekolah dasar kelas 1 dan kelas 2, sebenarnya tulisan itu sudah ramai sejak tahun 1998 *kata info yg cb gw cek bebicek* namun sore kemarin lagi-lagi dibuat heboh oleh beberapa Old Human yang merasa bahwa bacaan itu bukan untuk anak kecil yang dimana beban psikologinya belum mengerti.
Kalo gambarnya seperti ini :

Nah, kemarin sore itu di dunia burung kecil lagi rame dengan efek suatu tulisan dibuku teks sekolah dasar kelas 1 dan kelas 2, sebenarnya tulisan itu sudah ramai sejak tahun 1998 *kata info yg cb gw cek bebicek* namun sore kemarin lagi-lagi dibuat heboh oleh beberapa Old Human yang merasa bahwa bacaan itu bukan untuk anak kecil yang dimana beban psikologinya belum mengerti.
Kalo gambarnya seperti ini :

Nah sedangkan cerita keduanya ada dilink SINI
Sempat berdebat dengan beberapa Old Man *yang notabene sesama pendidik dan jg Psikolog anak* disana, mereka bilang itu salah dan harus dikoreksi. Sedangkan gw beragumen soal cerita *cerita yang ada di Link* tersebut adalah sesuatu hal yang wajar, coba diperhatikan kalimat yang ada di cerita "Si Angkri" disana kan diceritakan kejadian pada masa kolonial dan didaerah Betawi, bukannya dijaman itu banyak kata-kata yang memang tidak etis diucapkan bukan. Likely istri = bini, anak = bocah, dan beberapa kata yang gw belum sempet searching. Yang intinya pada masa seperti itu kata-kata tersebut menjadi lumrah.
Sedangkan untuk si cerita "Maman" gw merasa kata-kata istri simpanan itu memang sedikit absurd dan gak jelas inti ceritanya, jadi sedikit banyak untuk si "Maman" gw mempermasalahkan isi cerita tersebut.
Nah bagaimana dengan konteks anak SD yang membacanya??
Coba berfikir out of the box deh, kalau para pendidik mau bercerita kembali atau mengeksplore maksud dari kata "istri simpanan" atau "Pancing aje dengan perempuan" gw rasa anak2 SD tersebut dapat mengerti kok, ya walaupun tidak menutup kemungkinan anak2 semasa mereka lebih pintar menyudutkan kita dengan pelbagai macam pertanyaan.
Coba kalo para orang tua juga mau terlibat secara baik *bukan hanya menyalahkan isi ceritanya*, menjelaskan maksud dari cerita, pikiran positive yang dapat kita ambil, de el el. Pasti sang anak juga pasti akan ikut kita "kontaminasi" juga kan??
Apa iya, jika ada anak yang nanya
"pah, itu yang ngegantung dibawah perut papah apa?" lalu kita jawab "huuuussss,,kamu belum boleh tau.."
"mah, kok digambar adek liat di leptop ada gambar2 aneh??" sambil nunjuk ke leptop, lalu kita hanya jawab "adekkk, tutup leptopnya..."
Atau jika cerita itu bermasalah lantas gw sebagai guru akan melewatkan cerita / pembahasan itu, jika ada anak yang cerdas dan bertanya "pak, kok cerita si Maman gak dibahas??" , dan gw jawab "udah gak usah kita bahas, ini bukan cerita anak kecil...". Ndak seperti itukan gw sebagai guru harus tetap memberikan pembelajaran yang baik untuk mereka, meskipun ada kesalahan yang tidak terduga dari buku teks yang beredar di sekolah-sekolah kita ini.
Prinisipnya, jika kita mau memandang dari sudut pandang yang berbeda, pastinya kita juga dapat menjelaskannya dengan cara yang berbeda pula. Di burung biru itu gw bilang "kalo ada masalah yang absurd, apakah kita mau menjawabnya dengan hal yang absurd juga, atau kita tetap menjawab hal yang absurd itu dengan kepintaran kita sebagai pendidik"
Agak kesal saat tadi gw dibilang gak tau perkembangan psikologi anak umur 5-12 tahun, what the hell, saat gw kroscek ke akun2nya ternyata mereka mengurusi anak umur 5-12 tahun dengan golongan mampu, coba mereka mengurusi anak umur 5-12 tahun yang berada di rumah singgah!! anak-anak dirumah singgah sudah liar dari mereka kecil, mereka sudah mengenal rokok, sudah tau yang namanya ciuman dan alat vital lawan jenisnya. Tapi saat mereka bisa kita ajarkan sesuatu yang sudah mereka kenal, mereka bisa mengerti dan menghilangakn sesuatu yang buruk saat dikasih tau.
Intinya adalah, masalah buku pelajaran tersebut anggaplah kita bilang salah, lantas kita mau tetap menutupi kesalahan atau berjalan diatas kesalahan sambil menjelaskan kesalahan yang seperti apa.
Sempat berdebat dengan beberapa Old Man *yang notabene sesama pendidik dan jg Psikolog anak* disana, mereka bilang itu salah dan harus dikoreksi. Sedangkan gw beragumen soal cerita *cerita yang ada di Link* tersebut adalah sesuatu hal yang wajar, coba diperhatikan kalimat yang ada di cerita "Si Angkri" disana kan diceritakan kejadian pada masa kolonial dan didaerah Betawi, bukannya dijaman itu banyak kata-kata yang memang tidak etis diucapkan bukan. Likely istri = bini, anak = bocah, dan beberapa kata yang gw belum sempet searching. Yang intinya pada masa seperti itu kata-kata tersebut menjadi lumrah.
Sedangkan untuk si cerita "Maman" gw merasa kata-kata istri simpanan itu memang sedikit absurd dan gak jelas inti ceritanya, jadi sedikit banyak untuk si "Maman" gw mempermasalahkan isi cerita tersebut.
Nah bagaimana dengan konteks anak SD yang membacanya??
Coba berfikir out of the box deh, kalau para pendidik mau bercerita kembali atau mengeksplore maksud dari kata "istri simpanan" atau "Pancing aje dengan perempuan" gw rasa anak2 SD tersebut dapat mengerti kok, ya walaupun tidak menutup kemungkinan anak2 semasa mereka lebih pintar menyudutkan kita dengan pelbagai macam pertanyaan.
Coba kalo para orang tua juga mau terlibat secara baik *bukan hanya menyalahkan isi ceritanya*, menjelaskan maksud dari cerita, pikiran positive yang dapat kita ambil, de el el. Pasti sang anak juga pasti akan ikut kita "kontaminasi" juga kan??
Apa iya, jika ada anak yang nanya
"pah, itu yang ngegantung dibawah perut papah apa?" lalu kita jawab "huuuussss,,kamu belum boleh tau.."
"mah, kok digambar adek liat di leptop ada gambar2 aneh??" sambil nunjuk ke leptop, lalu kita hanya jawab "adekkk, tutup leptopnya..."
Atau jika cerita itu bermasalah lantas gw sebagai guru akan melewatkan cerita / pembahasan itu, jika ada anak yang cerdas dan bertanya "pak, kok cerita si Maman gak dibahas??" , dan gw jawab "udah gak usah kita bahas, ini bukan cerita anak kecil...". Ndak seperti itukan gw sebagai guru harus tetap memberikan pembelajaran yang baik untuk mereka, meskipun ada kesalahan yang tidak terduga dari buku teks yang beredar di sekolah-sekolah kita ini.
Prinisipnya, jika kita mau memandang dari sudut pandang yang berbeda, pastinya kita juga dapat menjelaskannya dengan cara yang berbeda pula. Di burung biru itu gw bilang "kalo ada masalah yang absurd, apakah kita mau menjawabnya dengan hal yang absurd juga, atau kita tetap menjawab hal yang absurd itu dengan kepintaran kita sebagai pendidik"
Agak kesal saat tadi gw dibilang gak tau perkembangan psikologi anak umur 5-12 tahun, what the hell, saat gw kroscek ke akun2nya ternyata mereka mengurusi anak umur 5-12 tahun dengan golongan mampu, coba mereka mengurusi anak umur 5-12 tahun yang berada di rumah singgah!! anak-anak dirumah singgah sudah liar dari mereka kecil, mereka sudah mengenal rokok, sudah tau yang namanya ciuman dan alat vital lawan jenisnya. Tapi saat mereka bisa kita ajarkan sesuatu yang sudah mereka kenal, mereka bisa mengerti dan menghilangakn sesuatu yang buruk saat dikasih tau.
Intinya adalah, masalah buku pelajaran tersebut anggaplah kita bilang salah, lantas kita mau tetap menutupi kesalahan atau berjalan diatas kesalahan sambil menjelaskan kesalahan yang seperti apa.
~r4,20120413~
36 comments:
ooh..jadi sebaiknya memang diungkapkan apa adanya ya, Pak Guru?
namun, tetap dibarengi dengan penjelasan oleh guru dan orang tua, sudut pandang yang bagaimana dalam menyikapi hal-hal semacam "istri simpanan" dan "pancing pake perempuan"?
kira-kira kesan mana yang lebih kuat diingat..
- bohong, istri simpanan, serakah dan cerai
- hikmah yang katanya ada di cerita tersebut.
*nunggu jawaban rama*
gw mo rapat pembekalan UN dolo ya....hehehehe
ternyata masih blm pada dateng yng mo rapat,,hehehhee jawab aaahhhh..
itu pemikiran gw Dan, kos rasanya terlalu gimana gitu, jika ada hal yang salah atau absurd harus dibahas dgn hal yang absurd juga...
catet,,its my opinion...
secara otak pasti yang akan diinget hal yang negatif dulu sih,,makanya pasti pilihan pertama yang akan teringat...
mungkin inti-nya dari segala keributan yang terjadi adalah...apakah pantas cerita semacam itu dimasukan ke dalam teks book anak SD? Seperti cerita2 sinetron yang ada sekarang ini...terlalu banyak unsur negatif yang harus dijejali ke pikiran anak2 SD yang baru berusia 5 - 7 tahun.....
kemana cerita simpel keluarga bapak budi dan ibu budi? mungkin itu lebih baik untuk anak2 yang masih muda belia *di luar konteks anak2 di rumah persinggahan seperti yang Mas Rama kemukakan*
Ma, kl gw jd ortu, ga ga mau anak gw tahu hal seperti itu sebelum umurnya cukup.
Lebih baik nonton kartun anak2 yg tanpa kekerasan drpd nonton realita yg kejam.
Sebaiknya berkembang sesuai umurnya bukan?
Oh ya, sejak kecil jika ditanamkan hal buruk bahaya buat kedepannya. Lebih baik positif dulu sampai usianya matang
Mgkn ada anak yg sudah tau, tapi byk jg anak yg belum tau dan mentalnya kagak siap... tp kalo udah salah gitu, ya mmg kudu dijelaskan apa maksudnya, drpd si anak nyari jawabannya sendiri, trs salah pulak pengertiannya...
Dan, memang sih , yg namanya TV itu infonya udah absurd banget dah.. kemarin ditanya ama anakku, sari rapet itu buat apa sih ? apanya yg dibikin rapet.. #mampus... sampe skrng blm bisa jawab.. =_='
kalo emang kita mau ambil segi positifnya, sebenernya bisa2 aja. secara udah kecetak juga, udah kebaca juga. anggap aja, anak2 itu bakalan lebih banyak tau. anak2 itu emang akan kecepetan tau2 hal2 seperti itu, tapi in some way, itu malah membuat anak2 itu lebih wise, lebih kenal sesuatu yg salah, dsb. dan anggap aja ini sebagai sebuah wawasan buat mereka. ga papa juga kalo kata gw.
yeessss,,,,kurikulim 94 lebih apik dibadningkandengan kurikulum skarang...
sejatinya sih memang begitu Feb,,tapi melihat realita yang udah ada,,gw jadi mikir lagi apa ia harus membiarkan mereka mencari tahu sendiri...tanpa pengawasan dari kita..
kalo ada yg pnh coba masuk rumah singgah deh, pasti akan ngerasain dilema...
nah, mksd ku sprti itu mba, ndak usah meributkan LKS nya tetapi bagaimana kita bisa mengarahkan isi cerita yang katanya "negatif" itu menjadi hal yang "positif" dan itu bukannya menjadi tugas kita bukan...
wah sejalan dengan gw lu J....
makanya mksd gw adalah ini bukukan udah terlanjur ke publish dan dibaca, mbok ya kita coba merekayasa cerita tersebut dengan gaya bahasa kita sendiri gitu loohhh..
Lohhhh, bukan membiarkan mrk cari tau sendiri say.
Tapi memberitahu mrk pada saat yg tepat
kapan kah waktu yang tepat itu mamah??
aku setuju sama yang ini :)
Yang pasti bukan sd kelas 2 untuk mengetahui ttg istri simpanan. Sd kelas 2 tuh umur 7-8 tahun loh.
Maybe remaja?
Pengetahuan untuk anak harus sesuai kemampuan pengertiannya dan kedewasaannya.
Buah karbitan ga enak rasanya kan Ma?
Sama seperti anak. Anak karbitan dewasanya bagaimana?
Well, u will know when u have you own child.
Yg pasti sebisa mungkin anak gw jangan sampek terkontaminasi hal yg buruk dengan cara yg tdk tepat.
Semodern apapun pandangan org skrg, dalam bbrp hal aku masih konvensional
yes itu diri mu darling....hehehehe
komennya setujuh doang,,hohohoh
hahahahahaa,,kata2 mujarab para orang tua nih..
"belum ngerasain punya anak sih..." gitu katanya..
but at least,,gw juga akan bertindak secara konvensional, tetapi ketika ada suatu tragedi yang gak bisa kita tutup2in maka gw harus "mengajarkannya" dan "memahaminya"..hehehehehhee *bijak gak tuh gw
belom punya anak, jadi belom bisa ngomong banyak, antara keinginan/cita2 sama penerapannya kan pasti beda banget...
sepengetahuan gw selama ini kalo ngajarin keponakan2 pasti diprotes sama ortunya, karena dianggap terlalu konvesional dan gw terlalu saklek... oh well...
wah gimana lu ngajarin anak2 dirumah singgah Chan,,bisa berantem terus sama tuh anak x ya....hahahahhaaa
pernah kok ngajar di rumah singgah :) dari kuliah juga sering ngajar anak2 kok gw...
wahhh rumah singgah dimana Chan???yang daerah Kebayoran bukan??
daerah senen sih waktu itu, kayaknya udah gada juga itu rumah singgah...
nah, itu juga bisa.. kreatif lah jadi orang yg lebih dewasa dari mereka, baik itu guru maupun ortu. gimana kek caranya. yg pinter2nya deh..
Ma, kalau sudah terlanjur mrk tahu, ya kita kasih tahu dengan sewajarnya.
Namun di kasus yg loe angkat di journal ini.
Gw rasa wajar ortu marah en ga mau anaknya tau.
Krn ini masuk sistem pengajaran di kelas u/ sd kls 2.
So.... Ini kesalahan sistem pendidikan. Benernya ini bisa dicegah bukan? Ini yg dimaksud para ortu yg ga trima anak2nya tau ttg istri simpanan. Ga wajar.
hehehhee,,okey case closed,,,mmuuaacchh
yeeee kaburr... kentang euiiiiiii
hahahaha... si rama sih gituu...
kenafah sama guwah??
gw abis baca komen terakhir di atas maksudnya
dah kentang, lemot pulak ya :))
ahahahahahaha...
Post a Comment