Secara gw udah kembali dengan kekasih lama ku, maka dengan ini saya memulai lagi untuk memposting secara berkala dan berkesan dalam,,hahahahha...Pagi yang cerah namun tidak indah ini dikarenakana celana kerja gw berhasil lembab karena jas hujannya rembes sampe ke celana dalam alias cancut, tapi bukan karena kebasahan itu pula gw membuat postingan kali ini.
Kalo ditilik dari judulnya, rada-rada berat dan agak menyentil para orang tua yang sok kaya atau sok berjiwa pendidik atau apalah itu, padahal keputusan mereka untuk memaksakan apa yang disebut dengan peringkat atau pendidikan kepada mereka yang belum saatnya atau bukan minatnya malah menambah penderitaan si anak.
Buat teman-teman yang udah punya anak atau yang berniat bikin anak setelah postingan gw ini, pasti suatu waktu bakalan mengeluh dengan keadaan anak-anaknya ini disebabkan, karena tidak pernah mendapatkan rangking, atau tidak berada di peringkat 1-3, sering bolos sekolah, nilai-nilai mata pelajarannya semua dibawah KKM. Yang lebih menohok dan menonjok ketika ada family gathering yang diadakan oleh tempat bapak atau ibunya bekerja, pasti sang teman-temannya membanggakan anak-anaknya dengan pelbagai macam kesombongan.
"deeuuuhhhh jeeeuung,,anak gw kemarin dari tempat kursus biolanya dikasih beasiswa buat ke Germany"
"eehhh seesss,,tau gak loh,,kemarin kata wali kelasnya anak gw termasuk anak yang berbakat dan bisa jadi penerus Habibie lhoo..."
"eh sob, anak lo peringkat berapa kemarin pas bagi raport?? anak gw peringkat 1", *ya iyalah anak lu peringkat 1, anak2 yg lain g pernah masuk sekolah* jawab kita dalam hati
"eeehhhh booooo, jeeeejj tau ga, macinca anak eeiikeee dapet beasiswa ke New York booooo,,iihh hati eeiikee senang bagindang....."
So, setelah mendapatkan curhatan para temen-temen dikantor atas prestasi anak-anak mereka terus kita jadi kalang kabut layaknya banci yang dikejar-kejar sama satpol pp ditengah malam, sibuk cari tempat kursus, marah-marah gak jelas karena raport anak kita g pernah terdapat rangking, masukin data ke sekolah-sekolah internasional dan lain sebagainya.
Hellloooo, sadar gak sih,,,
Kenapa kita tidak menjadikan mereka apa yang mereka inginkan, bukan apa yang kita inginkan. Analoginya anak-anak yang dititipkan ke kalian itu di ibaratkan kopi pahit yang diminum oleh para penderita diabetes akut, kopi pahit gw ibaratkan sang anak dan penderita diabetes akut adalah kalian para orang tua yang sok congak dan terus menerus mengaduk-aduk kopi manis yang diisikan gula bersendok-sendok.
Pada saat penderita diabetes akut meminum kopi pahit dan ingin merasakan kopi manis, maka secara terus menerus dia akan menambahkan gula kedalam kopi pahit tersebut, sesendok belum terasa manis, dua sendok pun belum terasa manis, ditambah lagi tiga sendok juga belum terasa manis, berpuluh-puluh sendok yang berisi gulu dicemplungkan kedalam kopi pahit itu, belum juga terasa manis, hingga akhirnya kopi pahit itu tidak lagi berasa kopi manis dan tidak lagi berasa sebuah cita rasa kopi.
Ingin jadi anaknya udah gak berasa seperti kopi lagi???
Coba kita membimbing anak kita untuk menjadi anak yang disukai oleh teman-temannya, suka membantu orang terlebih teman-temannya, sangat memegang janji, tidak mudah marah, enak diajak berteman, enak diajak ngobrol, atau kita ajarkan dia optimis dan humoris. Kenapa gak ada orang tua yang mengajarkan mereka seperti itu?????
Bisa gak kita menjadikan mereka dengan nilai sekolah yang biasa-biasa saja, namun kalau bertingkah laku terhadap orang, benar-benar rangking satu, CAN WE!!!
Di dunia ini banyakkan orang yang bercita-cita pengen jadi seorang pahlawan, tapi belakangan menjadi seorang biasa di dunia yang fana ini. Jika berada dalam kondisi sehat, jika hidup dengan bahagia, jika tidak ada rasa bersalah dalam hati, mengapa anak-anak yang kita lahirkan dan jaga tidak boleh menjadi seseorang biasa tetapi baik hati dan jujur.
Kalo ditilik dari judulnya, rada-rada berat dan agak menyentil para orang tua yang sok kaya atau sok berjiwa pendidik atau apalah itu, padahal keputusan mereka untuk memaksakan apa yang disebut dengan peringkat atau pendidikan kepada mereka yang belum saatnya atau bukan minatnya malah menambah penderitaan si anak.
Buat teman-teman yang udah punya anak atau yang berniat bikin anak setelah postingan gw ini, pasti suatu waktu bakalan mengeluh dengan keadaan anak-anaknya ini disebabkan, karena tidak pernah mendapatkan rangking, atau tidak berada di peringkat 1-3, sering bolos sekolah, nilai-nilai mata pelajarannya semua dibawah KKM. Yang lebih menohok dan menonjok ketika ada family gathering yang diadakan oleh tempat bapak atau ibunya bekerja, pasti sang teman-temannya membanggakan anak-anaknya dengan pelbagai macam kesombongan.
"deeuuuhhhh jeeeuung,,anak gw kemarin dari tempat kursus biolanya dikasih beasiswa buat ke Germany"
"eehhh seesss,,tau gak loh,,kemarin kata wali kelasnya anak gw termasuk anak yang berbakat dan bisa jadi penerus Habibie lhoo..."
"eh sob, anak lo peringkat berapa kemarin pas bagi raport?? anak gw peringkat 1", *ya iyalah anak lu peringkat 1, anak2 yg lain g pernah masuk sekolah* jawab kita dalam hati
"eeehhhh booooo, jeeeejj tau ga, macinca anak eeiikeee dapet beasiswa ke New York booooo,,iihh hati eeiikee senang bagindang....."
So, setelah mendapatkan curhatan para temen-temen dikantor atas prestasi anak-anak mereka terus kita jadi kalang kabut layaknya banci yang dikejar-kejar sama satpol pp ditengah malam, sibuk cari tempat kursus, marah-marah gak jelas karena raport anak kita g pernah terdapat rangking, masukin data ke sekolah-sekolah internasional dan lain sebagainya.
PUAS??? udah berhasil mendidik anak??? yakin anak lo lo *ngomng gaya anak ABG* semua bakalan dapet rangking atau bakalan berprestasi???
Hellloooo, sadar gak sih,,,
mereka boleh anak-anak kalian tapi mereka juga punya hidup yang rindu pada dirinya sendiri,
kasih mereka kasih sayang tapi jangan paksakan jalan pikiran mu.
kasih mereka kasih sayang tapi jangan paksakan jalan pikiran mu.
Kenapa kita tidak menjadikan mereka apa yang mereka inginkan, bukan apa yang kita inginkan. Analoginya anak-anak yang dititipkan ke kalian itu di ibaratkan kopi pahit yang diminum oleh para penderita diabetes akut, kopi pahit gw ibaratkan sang anak dan penderita diabetes akut adalah kalian para orang tua yang sok congak dan terus menerus mengaduk-aduk kopi manis yang diisikan gula bersendok-sendok.
Pada saat penderita diabetes akut meminum kopi pahit dan ingin merasakan kopi manis, maka secara terus menerus dia akan menambahkan gula kedalam kopi pahit tersebut, sesendok belum terasa manis, dua sendok pun belum terasa manis, ditambah lagi tiga sendok juga belum terasa manis, berpuluh-puluh sendok yang berisi gulu dicemplungkan kedalam kopi pahit itu, belum juga terasa manis, hingga akhirnya kopi pahit itu tidak lagi berasa kopi manis dan tidak lagi berasa sebuah cita rasa kopi.
Ingin jadi anaknya udah gak berasa seperti kopi lagi???
Coba kita membimbing anak kita untuk menjadi anak yang disukai oleh teman-temannya, suka membantu orang terlebih teman-temannya, sangat memegang janji, tidak mudah marah, enak diajak berteman, enak diajak ngobrol, atau kita ajarkan dia optimis dan humoris. Kenapa gak ada orang tua yang mengajarkan mereka seperti itu?????
Bisa gak kita menjadikan mereka dengan nilai sekolah yang biasa-biasa saja, namun kalau bertingkah laku terhadap orang, benar-benar rangking satu, CAN WE!!!
Di dunia ini banyakkan orang yang bercita-cita pengen jadi seorang pahlawan, tapi belakangan menjadi seorang biasa di dunia yang fana ini. Jika berada dalam kondisi sehat, jika hidup dengan bahagia, jika tidak ada rasa bersalah dalam hati, mengapa anak-anak yang kita lahirkan dan jaga tidak boleh menjadi seseorang biasa tetapi baik hati dan jujur.
Jika anakku besar nanti, dia pasti menjadi seorang suami atau isteri yang berbudi luhur, seorang ayah atau ibu yang lemah lembut, bahkan menjadi seorang teman kerja yang gemar membantu, tetangga yang ramah dan baik. Lalu ketika dia mendapatkan ranking 23 dari 40 orang murid di kelasnya, kenapa kita masih tidak merasa senang dan tidak merasa puas? Masih ingin dirinya lebih hebat dari orang lain dan lebih menonjol lagi? Lalu bagaimana dengan sisa 17 anak-anak di belakang anak kita? Jika kita adalah orangtua mereka, bagaimana perasaannya?
Guys, teman-teman dan mas bro mas bro sekalian, membaca tulisan sang rumi Khalil Gibran semoga bisa ngebuat kita merasa merinding dan menimbang kembali apakah kita sudah pantas menyanyangi anak-anak kita ?!?
Guys, teman-teman dan mas bro mas bro sekalian, membaca tulisan sang rumi Khalil Gibran semoga bisa ngebuat kita merasa merinding dan menimbang kembali apakah kita sudah pantas menyanyangi anak-anak kita ?!?
Anakmu bukan milikmu.
Mereka putra putri sang Hidup yang rindu pada diri sendiri,
Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau,
Mereka ada padamu, tapi bukan hakmu.
Berikan mereka kasih sayangmu, tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu,
Sebab mereka ada alam pikiran tersendiri.
Patut kau berikan rumah untuk raganya,
Tapi tidak untuk jiwanya,
Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan, yang tiada dapat kau kunjungi meski dalam mimpi.
Kau boleh berusaha menyerupai mereka,
Namun jangan membuat mereka menyerupaimu
Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
Pun tidak tenggelam di masa lampau.
Kaulah busur, dan anak-anakmulah Anak panah yang meluncur.
Sang Pemanah Maha Tahu sasaran bidikan keabadian.
Dia merentangmu dengan kekuasaan-Nya,
Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.
Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
Sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat
Sebagaimana pula dikasihiNya busur yang mantap.
- Khalil Gibran
Mereka putra putri sang Hidup yang rindu pada diri sendiri,
Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau,
Mereka ada padamu, tapi bukan hakmu.
Berikan mereka kasih sayangmu, tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu,
Sebab mereka ada alam pikiran tersendiri.
Patut kau berikan rumah untuk raganya,
Tapi tidak untuk jiwanya,
Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan, yang tiada dapat kau kunjungi meski dalam mimpi.
Kau boleh berusaha menyerupai mereka,
Namun jangan membuat mereka menyerupaimu
Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
Pun tidak tenggelam di masa lampau.
Kaulah busur, dan anak-anakmulah Anak panah yang meluncur.
Sang Pemanah Maha Tahu sasaran bidikan keabadian.
Dia merentangmu dengan kekuasaan-Nya,
Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.
Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
Sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat
Sebagaimana pula dikasihiNya busur yang mantap.
- Khalil Gibran
~r4,20120301~
42 comments:
ngomongin soal anak itu gampang-gampang susah
gw sekarang gak bisa komen dulu, karena gw belom punya anak :|
gw juga belum punya anak kok....hohohoho
Gimana dgn kurikulum diknas yg membunuh.. Gw termasuk ibu yg mau namparin diknas krn pikir dulu sblm bikin kurikulum, sblm bikin akreditasi atau apalah itu..
di edisi sebelumnya pan udah gw bilng kurikulum diknas dibuat oleh orang2 diknas bukan dengan musyawarah para orang tua dan para pendidiknya...gitu loh madam....
ortu zaman sekarang cuma tau bikin anak tapi ga tau cara mendidik anak. Sedangkan zaman bikin anak2 makin cepat dewasa. Gue suka browsing tumblr, dan banyak bgt tumblr milik anak-anak ABG yg isinya putus asa, life is shit, school is boring, school/home is prison, breakdown, people are leaving me, I feel disconnected... etc etc... ealah andai anak2 di bawah 10 thn bisa punya blog, mungkin isinya sama juga kali, stress krn ortu2 mencekoki mereka dgn "gula" spt yg kamu bilang Ram.
Bersyukur masih ada guru spt RGGM nih hehehehe.... ntar kalo gw punya anak, disekolahin di sekolahmu deh
belum baca..
trus masyarakatnya hopeless gitu ya gak bs ebrbuat apa-apa jadi korban doang
kasian amat anak-anak indonesia
anakmu bukan milikmu...
hu um...
aaaahhhhh,,,jadi melayang gimana akikaaahh....
Setuju gak Ram kalau sistem ranking dihapuskan saja?
hehehhe *senyum kecut*
blm ada yang berani merubah paradigma pendidikan kita yang katanya "bagus" dimata pak mentri itu...
um uh...
dihapuskan tetapi diganti dengan sistem rewards...itu lebih mendidik..
pelajaran berharga bagi gw sbg orang tua ;-)
itulah kenapa meski rangkingku hancur..bapak ibuk cuman mesem hahahaha
eh menurutmu Ram, apa emang sistem rangking itu buruk buat anak2? Soalnya di amrik ga ada sistem ranking di kelas, adanya penghargaan di acara akhir sekolah, ada award2 buat siswa yg nilainya bagus atau prestasti di bidang2 tertentu (tapi dari seluruh sekolah, bukan per kelas). Di satu sisi bagusnya ya krn ngga ada ibu2 rese pengen anaknya rangkin satu, tapi di sisi lain si anak juga ga maju krn ga tau dirinya ada di posisi ke berapa dibandingkan temen2nya. GImana mnrtmu, Sensei?
Aku nyamber aja ya, karena anak-anakku mengalami sistem pendidikan model begini. Kalau aku sebagai ortu cukup melihat apakah dia bisa mempertahankan/memperbaiki prestasi yang sebelumnya apa tidak. Misalnya nilai matematikanya semester kemarin dapat A, maka kalau semester sekarang jadi B berarti ada sesuatu, entah anaknya kebanyakan main atau suasana kelasnya yg gak enak. Kalau ngedropnya jauh banget, berarti tanda bahaya, takutnya dia tertekan atau mengalami bullying.
Yap, ini yang terjadi di sekolah anak-anakk. Yang ada adalah sistem reward, baik itu dalam hal prestasi akademis maupun tata tertib. Malah menurutku penekanannya lebih ke kepatuhan akan tata tertib. Anak yang tidak pernah melanggar aturan biasanya diberi reward berupa mainan atau alat tulis, atau diangkat menjadi "murid panutan minggu ini." Dan ini dilakukan sejak tahap awal (Pre-K).
ntar kalo gw dah punya anak gw komen disini lagi deh...
emang dah ada calon??/
mesem mesum ya....
semoga berguna ceman....
aje gile gw dipanggil sensei,,blm pantes madam...hahahaha
berat yeeee pertanyaannya...ckckckckckc
nanti ya,,lgi ngajar dolo....hahahahaa
rewards itu juga gak selamanya bagus kok...
belom. lo mau ngenalin?
ini adalah motto ortu gw, tingkah laku adalah hal nomor satu, pendidikan memang penting tapi akhlak tidak kalah pentingnya :)
aku rasanya udah pernah menuliskan jurnal yg mirip2 seperti ini, tapi lupa judulnya apa ya?
that's why aku ga pernah didik anak2 utk meraih rangking2an, mereka ujian pun aku ga pernah pusing dampingin, mereka mo belajar silahkan, ga pun gpp, anak2 ga ada yg aku ikutkan les, malah secara ga langsung aku banyak memberi kebebasan anak2 utk banyak bermain, menyeimbangkan waktu belajarnya yg udah full
kesuksesan mereka nantinya ga ditentukan prestasi mereka ketika di sekolah. udah banyak bukti yg dulunya ranking belum tentu yg paling sukses di masa dewasanya
tp ini tulisan ku kok,,,suweeeerrr g plagiat,,,hahahahhaa
yes thats way mereka punya mimpi dan dunianya sendiri, kasian masih umur 4 tahun udah dibanyakin kursus ini itu..belum lagi mesti kudu wajib bahasa internasional.....hhhuuuuhh *mksdnya bkn kasian tp g sanggup biayanya*
iihhh pantes waktu pertama kali bertemu dengan mu, hati ku langsung gimana gitu,,,,*uuueeeekkkkkkk....uueeekkkkk*
mau sama temen gw Bim, nama Marya...
hihihi aku ga nuduh dirimu plagiat kog, namanya org kan kadang2 pemikirannya suka sama, cuma kadang cara dan gaya penulisannya bisa beda2 toh, jd santai aja ram
nah soal yg rama sebutin itu juga salah satu yg aku ga gitu suka, kecuali memang anaknya yg pengen ya, silahkan, itu hak anak utk itu, tapi umur 4 th mah anak2 belum banyak tahu kan kecuali orang tuanya yg mendikte, xixixi, jd ya biarkan anak jadi apa yg dia mau
luapan hati emak-emak yang tergerus jaman retropolis,,,hahahahhaa
rasanya hati lo deg degan pas liat Haido berbelahan dada tiduran di bawah siraman aer hujan deh
awas lu ya, kl nanti pas nonton sampe teriak2 nangis dan segalanya pa lagi didepannya mukanya si Takarai itu....
gw kan bayar, terserah dong gw mo ngapain *muka lempeng*
ssuuuuooommbooonggggggg....hahahahahhaa
yakinlah apa yg dikatakan oleh mahaguru Rama Aiphawibi
berasa iklan toyota gw Tim,,tumben balik ke marih...
pasti ujung2nya celaan nih...
jiahahah orang tangerang lucu juga nih :))
panjangnya Maryanto.....mauu??
rama like this
Post a Comment