June 23, 2009

Pemalas kah kita sebagai Bangsa ?

Awalnya pengen bikin postingan yang ringan2 aja, tapi pas ada anak2 didik ku yang sedang memamerkan BlackBerry Bold *muka langsung miris, gurunya aja masih pake SE tipe 9i taon jebod* niatan untuk posting yang ringan2 langsung buyar dan jadinya postingan yang sedikit menguras keringat yang sedang bercucuran di kening jatuh ke leher dan akhirnya ke k***k.

Beeeuuuhhh dengan bangganya tuh otong mamerin tuh BB ke temen2nya, secara gak langsung ke gw sih *tapi pura2 gak merhatiin, sambil nahan dongkol*. Itu bocah masih kelas SMA udah punya Bold BB, kira2 minta ngerengek-rengek ke kedua orangtuanya gimana ya? apa sambil ngosek2 comberan, nyilet2 tangannya, jambak2in rambutnya, atau tebak2n yang kalah mesti kudu wajib beliin tuh Bold BB. Haaahhh, gw gak ambil pusing, kalo pun dari cara2 itu ada yang di lakuin dan di kabulin sama Bokap dan Nyokapnya, di bilang sirik apa tidak, ya gw sih bisa bilang "YA IYALAH GW SIRIK, BANGET....", "emang dia pikir gw mampu beli??" "YA KAGAK LHA" sabarrrr Rama......................sabaaarrr...............Rama.........sabaarrrrr....tariiikkk nafasss.....hhuuufffffftt.
*sudah sedikit tenang*

Ya kalopun bapak sama ibunya nurutin tuh anak buat di beliin BB, enak kali ya jadi tuh bocah, lha se inget gw babeh sama enyak gw aja, waktu gw sampe mau lompat dari atas pohon minta duit buat beli robot2n yang bisa ngomong reaksi nyokap tetep nyapu tak bergeming lha sedangkan bokap malah asik maenin motornya *sakiittttt kalo inget*. Tapi jaman sekarang bocah minta Bold BB langsung di beliin, emangnya emak sama bapaknya kagak mikir 2x apa beliin tuh bocah BB, palingan tuh BB cuman di isi sama provider yang ngasih internet murah sama sms murah *sirik yang meluap-luap*, mendingan ketauan gw walopun hape jadul tapi propidernya sekelas sama Luna Maya *siriknya udah gak ketulungan nih*.

Nah postingan gw kali ini bukan ngebahas tentang TUH BB *sewwwooott karena anak didiknya sendiri* tapi tentang sesuatu yang mungkin sangat bertolak belakang banget dengan apa yang tadi di rasain sama tuh bocah dengan apa yang di rasakan sama bocah2 lainnya.

Mungkin gak sih bangsa kita ini adalah bangsa yang PEMALAS, tidak terlalu salah memang pendapat tadi, walaupun bisa jadi pendapat tersebut terinspirasi oleh rengekan anak orang kaya yang terus menerus meminta dibelikan mobil baru untuk berangkat kuliah walaupun prestasi anak itu jeblok atau bisa jadi juga terinpirasi dari kegelisahan yang selalu menghantui setiap malam karena teringat rayuan isteri mudanya yang terus merengek meminta kalung berlian untuk pergi arisan, atau rengekan bocah SMA yang minta Bold BB.

Mungkin saja benar pendapat dengan kenyataan sebagian seperti keadaan disekitarnya dan pengalaman manja, tetapi tentu saja objektifitas yang melatar belakangi pendapat itu harus dipertanyakan, karena gw dan siapapun tidak bisa mengintip persoalan bangsa yang sangat besar ini hanya dari sebuah jendela dari sebuah apartemen yang manja,mewah dan jauh dari realita sosial.

Contoh yang sangat bertentangan seperti ini, mas Parmin misalnya, mendorong gerobak baksonya yang butut berkeliling puluhan kilo meter mencari pembeli dan keuntunganya tetap saja tidak bisa dipakai untuk membelikan celana dalam isterinya yang mulai bolong-bolong. Sedangkan di belahan rumahnya sana ada istrinya yang masih merengek-rengek minta di belikan g-string dkk, meskipun jumlah celana dalamnya sudah bisa untuk membuka counter sendiri.

Lain lagi dengan mbah Kasiem adalah contoh lainnya, dalam usia yang tidak lagi muda, punggungnya yang mulai membungkuk harus menggendong beban berat berupa jamu gendong yang di jajakan setiap pagi dan sore, namun tetap saja keuntungan yang diperolehnya tidak pernah merubah menu makannya selain nasi dan garam. Sedangkan nenek-nenek lincah di pojokan sana sedang bingung karena bosan memilih menu yang ada di sebuah outlet resto ternama.

Ada lagi mang Ujang yang setiap malam tidak pernah tertidur pulas karena harus memandikan dan menguburkan mayat yang tidak jelas identitasnya, sama tidak jelasnya dengan honor yang kadang dia dapat kadang tidak. Belum lagi kalau kita melihat ratusan anak kecil dipasar-pasar induk yang menjajakan kantong plastik atau membawa kuas semir hanya untuk menambah biaya sekolah karena penghasilan orang tuanya yang didapat tidak pernah cukup.

Jika contoh-contoh relita sosial yang kita lihat setiap hari dan kita saksikan dengan sangat kontras, masih tegakah mulut yang tidak pernah meminum air keruh yang dimasak dengan kayu bakar mengatakan bahwa bangsa ini pemalas? masih tegakah tangan manja yang tidak pernah dihiasi cucuran keringat demi mendapatkan upah secuil itu mengepal dan membenarkan bahwa bangsa ini adalah bangsa pemalas? Pasti jawabannya adalah TIDAK.

TIDAK, bangsa ini bukan bangsa pemalas! bangsa ini adalah bangsa pekerja keras yang disetiap darahnya mengalir darah para pejuang. Bangsa ini adalah bangsa yang yang kuat namun dilemahkan oleh sebuah sistem yang berpihak kepada para perompak, bangsa ini menjadi miskin bukan karena bangsa ini pemalas, tapi karena dimiskinkan oleh kebijakan yang tidak pernah berpihak kepada rakyat yang menjadi pemilik sah negeri ini.

Sumber daya alam negeri makmur ini tidak pernah diserahkan oleh penguasa korup kepada tangan-tangan kekar rakyat untuk diolah secara benar, sumber daya alam yang makmur ini justru diserahkan oleh penguasa keparat kepada antek-antek kapitalisme brengsek yang dulu menjajah negeri ini. Indonesia yang subur ini tidak pernah dibiarkan dikelola oleh rakyat yang terkenal ahli bertani sejak ratusan tahun yang lalu ini, tanah yang subur ini malah dibiarkan bebas dirampok dan dijarah oleh cukong-cukong laknat dari Singapura dan Malaysia.

Berhentilah mengatakan atau berfikir bahwa bangsa ini adalah bangsa pemalas! sebab bangsa ini memiliki kekuatan yang luar biasa, bangsa ini telah terlatih menghadapi penderitaan apapun termasuk menghadapi penderitaan yang dimunculkan oleh pemerintahnya sendiri. Bangsa ini adalah bangsa tangguh ! bukti ketangguhanya adalah bangsa ini tidak pernah menuntut, menyalahkan, mengemis dan menghukum pemerintahnya, melainkan menerima, memaklumi kekurangan, dan sangat mudah memaafkan kesalahan pemerintahnya. Bahkan, rakyat begitu sabar, tahan dan arifnya walau kadang sering kali mereka yang dituntut, dipersalahkan, dan dihukum oleh pemerintahnya.


Dan bangsa ini adalah bangsa yang kuat tidak LEMAH namun entah kenapa mudah untuk di LEMAH kan oleh bangsa lain, bangsa ini adalah bangsa yang KUAT namun entah kenapa lagi bangsa ini tidak bisa melihatkan ke-KUAT-annya. Karena bangsa ini bangsa tangguh bukan bangsa pemalas!.

"Bangkitlah NKRI, jangan pernah melihat dengan hanya hasilnya tapi dahulukan lah proses untuk mencapai hasilnya."

No comments: