Sepertiga malam selalu aku lalui dalam hitamnya malam, bulan sabit seakan tak akan beranjak purnama, ketika aku mencinta dan mencoba menyayangi seseorang mahluk tuhan yang diciptakan untuk melengkapi adam dalam neraka ataupun surga. Kelam, hitam dan muram membungkus wajah ku dalam kepedihan tentang mencinta, petikan syair-syair kalam tak mampu membius sefanatiknya aku untuk bisa menjadikannya calon bunda untuk anak-anak ku kelak.
Intelektual tentang bercinta tidak pernah menjadikan sebuah janji bermakna luhur dan ambigu, kilauan angin dalam sebuah baling-baling kasar tak jua memupuskan sebuah memori yang memang tak ingin aku hapus.....karena aku memang sangat-sangat kehilangan sosok wanita itu, yang bergelayut beraroma suci dalam surgawi. Tubuhnya tidak sesuci Maryam, atau semurni Aisyah sang Firaun, tapi bagi ku siluet indah yang diciptakannya mengapa mengalahkan semua logika tentang ke-absurd-an ku dengan kefanaan hati ini.
Bila aku dijadikannya Muhammad oleh Rabb ku tentu aku hanya ingin dia yang menjadi Aisyah dan Khadijah dalam melepaskan semua penat yang telah diciptakan angkara ku. Terlalu naif memang mengharapkan dia akan kembali mencintai ku dengan tubuh ku yang penuh dengan kurangnya dan tanpa sedikit pun yang dapat dibanggakannya pastinya dia malu untuk memiliki dan berjalan disamping ku.
Mencaci, menghina, menghempas, memaki, membunuh dan memutilasi semua pikiran dan tindakan yang ingin aku jajaki juga jamahi selama ini. Aku tidak tahu menahu apakah ini yang disebut senandung cinta,,,, senandung; nyanyian atau pujian tentang kekuatan untuk memuja, cinta; ........ aku tak ingin melukiskannya atau memberi hadiah yang sangat-sangat teristimewa, jadi aku tidak mengerti tentang sebuah poin-poin cinta. Senandung cinta yang ingin sekali aku petik dan aku hisap kesemua puting yang merekah dalam nyanyiannya. Tapi mengapa senandung cinta ini seperti badai???? atau kah ini adalah senandung cinta dalam badai.....
Intelektual tentang bercinta tidak pernah menjadikan sebuah janji bermakna luhur dan ambigu, kilauan angin dalam sebuah baling-baling kasar tak jua memupuskan sebuah memori yang memang tak ingin aku hapus.....karena aku memang sangat-sangat kehilangan sosok wanita itu, yang bergelayut beraroma suci dalam surgawi. Tubuhnya tidak sesuci Maryam, atau semurni Aisyah sang Firaun, tapi bagi ku siluet indah yang diciptakannya mengapa mengalahkan semua logika tentang ke-absurd-an ku dengan kefanaan hati ini.
Bila aku dijadikannya Muhammad oleh Rabb ku tentu aku hanya ingin dia yang menjadi Aisyah dan Khadijah dalam melepaskan semua penat yang telah diciptakan angkara ku. Terlalu naif memang mengharapkan dia akan kembali mencintai ku dengan tubuh ku yang penuh dengan kurangnya dan tanpa sedikit pun yang dapat dibanggakannya pastinya dia malu untuk memiliki dan berjalan disamping ku.
Mencaci, menghina, menghempas, memaki, membunuh dan memutilasi semua pikiran dan tindakan yang ingin aku jajaki juga jamahi selama ini. Aku tidak tahu menahu apakah ini yang disebut senandung cinta,,,, senandung; nyanyian atau pujian tentang kekuatan untuk memuja, cinta; ........ aku tak ingin melukiskannya atau memberi hadiah yang sangat-sangat teristimewa, jadi aku tidak mengerti tentang sebuah poin-poin cinta. Senandung cinta yang ingin sekali aku petik dan aku hisap kesemua puting yang merekah dalam nyanyiannya. Tapi mengapa senandung cinta ini seperti badai???? atau kah ini adalah senandung cinta dalam badai.....
No comments:
Post a Comment