“Saya sadar saya tidaklah sehebat Fatimah, sebab itu saya perlukan kamu yang soleh seperti Ali untuk membimbing saya”, kata wanita.
“Aku memang tidak sebagus Ali, sebab itu aku memilih kamu yang sempurna macam Fatimah!!!!”, tegas seorang lelaki.
Semua sibuk mencari. Mudahkah untuk mendapatnya?
Semua sibuk mencari. Jika jumpa, mudahkah untuk tidak melepaskannya?
Kadang kita bertemu dengan seseorang yang tidak pernah kita harapkan. Alhamdulillah, inginnya yang bisa membuat kita lebih baik dari yang sekarang dan lalu. Tetapi mampukah kita mengekalkan pasangan kita pada benchmark lebih baik seperti itu di sepanjang hubungan kita dan nantinya kelak di alam rumah tangga???
Dia mungkin akan diubah oleh suasana kerja, dia mungkin akan diubah apabila kembali ke pangkuan keluarga, dia mungkin berubah atas banyak pengaruh, atau paling utama, dia mungkin berubah kerana dia memang berubah.
Maka mampukah kebahagiaan dan kesempurnaan hubungan dipertahankan, jika kita meletakkan kesempurnaan itu ialah pada apa yang pasangan kita buat dan tidak buat, jadi atau tidak jadi???
Kita mau mencari pasangan hidup yang lebih baik, dan kita menemuinya di dalam suasana semua nampak sempurna. Semasa bercinta, dialah Ultraman, dialah Gaban, dialah para jagoan dunia persilatan. Tetapi siapa sangka, kapan waktu, Ultraman berubah menjadi raksasa!!!!
Jika bahagia dan sempurnanya hubungan ialah pada apa yang aku telah buat atau apa yang kamu buat, kita akan hidup dan mati dalam pencarian. Pencarian yang tidak akan terus ada dan panjang.
Maka jika mau mendapatkan yang baik, kurangkan sedikit agenda menCARI si BAIK, tetapi berusahalah menJADI yang BAIK. Jika inginkan yang LEBIH BAIK, janganlah cerewet sangat menCARI yang LEBIH BAIK, tetapi berusahalah menJADI yang LEBIH BAIK.
Bertemu yang baik dan lebih baik belum tentu kekal. Bertemu yang seperti itu, semuanya akan berubah… karena si BAIK dan si LEBIH BAIK adalah insan biasa.
Tetapi jika semua orang fokus kepada JADI dan bukannya CARI, maka ramailah calon, dan mudahlah sedikit kehidupan. Dan kita sendiri tidak bimbang untuk berumah tangga kelak nantinya dengan pasangan ‘itu’ walaupun mungkin tidak 100% (30% pun belum tentu) mengenalinya.
Apa yang kita bimbangkan, kita hidup sebagai sebagian daripada proses untuk MENJADI, bukan MENCARI......
No comments:
Post a Comment