April 05, 2008

Bahagia dengan sedekah,,,,,,

Sungguh tepat apabila di Indonesia lembaga-lembaga yang menganjurkan, menampung dan menyalurkan zakat, infaq dan sedekah warganya semakin menjamur. Kenapa? Penelitian terkini menunjukkan, menyalurkan pengeluaran harta untuk kebaikan orang lain ternyata bersumbangsih dalam peningkatan kebahagiaan bagi sang donatur.

Bersedekah membuat semakin bahagia. Itulah kira-kira rangkuman hasil kajian Elizabeth Dunn, dari University of British Columbia, Vancouver, Kanada. Hasil penelitian ini terbit di jurnal ilmiah kondang dunia, Science, volume 319, 21 Maret 2008. Judul karya ilmiah yang membongkar mitos di bidang ilmu ekonomi itu berbunyi"Spending Money on Others Promotes Happiness" (Membelanjakan Uang untuk Orang Lain Meningkatkan Kebahagiaan) .

Sang peneliti, pakar psikologi sosial, Elizabeth Dunn, dalam kajiannya ingin mengetahui jenis pembelanjaan yang bagaimana yang mendorong munculnya kebahagiaan pada diri si empunya uang. Timnya meneliti 109 mahasiswa University of British Columbia. Bukan hal yang mengherankan, kebanyakan mahasiswa itu berkata, mereka lebih bahagia dengan 20 dolar ketimbang 5 dolar. Mereka pun akan membelanjakannya untuk kepentingan pribadi ketimbang untuk orang lain.

Selain itu, Dunn dan timnya memberi 46 mahasiswa lain dengan amplop berisi lembaran 5 dolar atau 20 dolar, tapi tidak membiarkan mereka bebas membelanjakan uang tersebut. Sebaliknya, sang peneliti menyuruh mahasiswa itu membelanjakan uang untuk hal-hal tertentu.

Uniknya, yang pada akhirnya lebih bahagia adalah mahasiswa yang mengeluarkan uang untuk amal kemanusiaan atau membeli hadiah untuk orang lain, daripada mereka yang menggunakan uang itu untuk diri sendiri, seperti melunasi rekening atau foya-foya.

Jajak pendapat juga dilakukan pada 16 karyawan di sebuah perusahaan di Boston setelah dan sebelum mereka mendapatkan bonus dengan jumlah beragam. Dunn dan rekannya juga mengumpulkan data gaji, pengeluaran, dan tingkat kebahagiaan dari 632 orang di Amerika Serikat.

Kesimpulan: di kedua kelompok orang tersebut, kebahagiaan berkaitan dengan jumlah uang yang dikeluarkan untuk orang lain daripada jumlah besaran mutlak dari pendapatan atau bonus.

Yang menarik lagi, sang peneliti Elizabeth Dunn menutup tulisan ilmiahnya dengan mengatakan: "Mengingat bahwa orang terlihat mengabaikan manfaat membelanjakan uang untuk kemaslahatan masyarakat, campur tangan berupa kebijakan yang mendorong pengeluaran uang untuk kemaslahatan masyarakat; menganjurkan warga untuk menyisihkan penghasilan untuk orang lain daripada untuk diri mereka sendiri & mungkin berguna dalam rangka mengubah kekayaan nasional yang semakin meningkat menjadi kebahagiaan nasioal yang semakin meningkat."

Kesadaran kita untuk sekedar menyisihkan 2,5% yang bukan menjadi hak kita sepertinya adalah hal yang sulit, padahal kita mengerti dan paham tentang ketentuan, tuntunan, pedoman dan siksaannya bila kita memakan hak fakir miskin. Yang katanya kita umat yang lebih baik, tapi kenyataanya??? kenapa ya??

No comments: