Suatu kali pikiran ini bertanya kepada saya:
“Jika, ada 2 pilihan untukmu.
1. Menikah dengan orang yang saya cintai
2. Mencintai orang yang saya nikahi
Mana yang saya pilih?”
Saat itu spontan saya memilih yang kedua: mencintai orang yang saya nikahi.
“Kenapa?”
Hhm… iya ya, kenapa?
Sebab jodoh adalah hal yang pasti, meski masih menjadi misteri bagi orang-orang yang belum menemukannya. Sedangkan mencintai adalah hal yang berbeda. Saat kita menikah, kita telah dianggap telah melaksanakan 1/2 dari agama. Artinya yang setengahnya lagi harus kita gapai bersama pasangan didalam mahligai rumah tangga. Idealnya, setelah menikah harusnya kualitas keimanan dan ibadah suami istri semakin meningkat dibandingkan saat sebelum menikah.
Kalau dulu waktu masih singgle sholat fardhu sendiri, setelah menikah bisa berjama’ah bersama istri atau suami. Waktu masih sendiri susah sekali bangun malam untuk menjalankan sholat tahajud, setelah menikah ada suami atau istri yang akan membangunkan kita untuk mengajak tahajud bersama. Intinya yang dulu biasa dilakukan sendiri kini bisa dilakukan bersama dan tentunya ada yang berperan sebagai pengontrol atau pembimbing mungkin suami sebagai qowwam akan lebih berperan dalam membimbing istrinya dalam hal peningkatan kualitas ibadahnya.
Nah untuk memadukan keduanya adalah dengan prinsip 1/2 + 1/2 = 1, kepikir g jika kita masih mengutamkan unsur AKU bukan KITA dalam menjalankan mahligai rumah tangga, sebenarnya sih rumusan itu juga bisa diterapkan dalam proses menjalani dengan pasangan kita sekarang. Biarpun terdapat "perang" dalam perjalanannya tapi jika kita ingin menjadikannya satu bukan dua (1+1=2) maka di pastikan syetan yang merusak hubungan ini g bakalan tahan dengan prinsip kita.
Memang dalam kedua belah pihak mesti ada yg merelakan 1/2 dari dirinya untuk dihilangkan, karena siapa pun dia, apa pun dia, jika berpegang teguh dengan keegoisannya pasti tak akan ada yang namanya 1 keluarga, 1 hubungan pacaran. Egois boleh dan itu memang hak individu setiap orang, dan karenanya dengan pilihan no.2 itu (Mencintai orang yang saya nikahi) saya bisa meredam segala keegoisan saya dan pasangan saya, emosi saya dan pasangan saya, dan semua macam hal yang datangnya dari amarah bisa kami redam dengan yang namanya "CINTA".
Klise memang, tapi itulah adanya dan pasti....Belajar untuk mencintai memang terlihat mudah dan sepele, tapi apa pun itu sangatlah susah untuk sekedar kita mengerti. Belajar mencintai pasangan kita apa adanya, selalu mensupportnya tanpa mengaharapkan dia menjadi sesuatu atas support kita, jadi dan menjadi dirinya sendiri itulah bentuk dari belajar mencintai. Gampang di ucap tapi sedikit sulit dilakukan.
No comments:
Post a Comment